Marah Juga Sayang
Hari ini adalah hari Minggu, hari libur bersama. Keluarga Pak Badaruddin,S.Dn dan Ibu Muliati rencana dihari ini ingin jalan-jalan ke Pantai tanjung bayam Makassar. Kebetulan di hari ini bertepatan seorang Pak Badaruddin sebagai kepala rumah tangga yang super sibuk mendapat cuti dari kantornya
. Pak Badaruddin bekerja disalah satu perusahan swasta yang bercabang di kota Makassar, hari ini punya waktu untuk keluarga tercinta karna tidak ada tugas dari kantor, hampir tiap akhir pekan. Biasanya beliau terbang keluar kota untuk bertemu kliyen. Momen-momen untuk berkumpul dihari libur bersama keluarga tercinta jarang sekali terjadi dikeluarga Pak Badaruddin dan Ibu Muliati.
. Pak Badaruddin bekerja disalah satu perusahan swasta yang bercabang di kota Makassar, hari ini punya waktu untuk keluarga tercinta karna tidak ada tugas dari kantor, hampir tiap akhir pekan. Biasanya beliau terbang keluar kota untuk bertemu kliyen. Momen-momen untuk berkumpul dihari libur bersama keluarga tercinta jarang sekali terjadi dikeluarga Pak Badaruddin dan Ibu Muliati.
Jam dinding dikediaman Pak Badaruddin menunjukkan pukul o8:30 Am. Di pagi ini hujan menguyur hampir seluruh kota Makassar. Zulhair Badaruddin yang masih berusia tiga tahun sudah tidak sabaran lagi untuk berangkat ke pantai, sampai-sampai memberontak dan tak mau berhenti menangis kepada Ibunya ( Bu Lia) sampai-sampai tak mau makan dan memecahkan guci yang ada di rumahnya. Namanya juga Anak-anak, bila keinginannya tidak terpenuhi yang dilalukannya hanya membrontak dan menangis saja maunya.
Setengah jam telah berlalu, hujan pun belum juga redah dan Anak semata wayang pasangan Pak Badaruddin dan Bu Lia masih juga memberontak dan tidak mau berhenti menangis. Bu Lia pun mengajak suaminya untuk menerobos hujan di pagi hari ini demi si buah hati yang tercinta. Setelah secankir kopi dan sebatang rokok telah dinikmati diantara tetesan hujan dengan tiupan badai angin mendinginkan tubuh Pak Badaruddin yang membuat dirinya merasa mengantuk dan ingin bermalas-malasan bersama Sang Istri tercinta. Akhirnya Pak Badaruddin berjalan ke arah garasi dan mendekati mobil untuk memanaskan mesin. Setelah semuanya sudah siap dan semuanya sudah berada di dalam mobil, akhirnya mereka berangkat juga menuju tujuan menerobos hujan dan terjebak macet karna padatnya kendaraan dan banjir dimana-mana. Ayah dan Ibu Zul berusaha menyakinkan Anak semata wayangnya untuk tidak ke pantai karna hujan deras dan pasti ombak laut sangat tinggi bahkan menakut-nakuti dan mengancam anaknya. Karena Ayah dan Ibu Zul sangat mengawatirkan keselamatan dan kesehatan anaknya, namun Sang Anak tetap ngotot untuk ke pantai bahkan menarik-narik rambut Ibunya. Cinta dan kasih sayang seorang Ayah dan Ibu kepada si buah hati terlalu besar dan tak mau mendengar tangisan Anaknya apa pun relah diberikan, mau tak mau kedua orang tuanya pun mengikuti keinginan si buah hati tercinta tanpa memikirkan lagi resiko berada di pantai saat hujan deras dan badai angin yang datang menyapa dan harus berdampingan dengan gelombang ombak yang tinggi. Padahal sebelum berangkat, Zul Anak semata wayang pasangan Pak Badaruddin dan Ibu Lia sudah di pilihkan beberapa wahana permainan yang ada di kota Makassar selain ke pantai salah satunya Trans Studio, namun Zul tetap memilih ke pantai dan tak mau berhenti menangis bila di ajak ketempat lain selain ke pantai.
Sesampainya di parkiran Tanjung Bayam, Zul sudah tidak sabaran untuk menikmati suasana berada di pinggir pantai Tanjung Bayam Makassar dengan gelombang ombak yang cukup dahsyat dan menakutkan tetapi sedikit pun nyali Zul tak berubah dan tetap berambisi untuk berenang padahal rumahnya dilengkapi kolam renang. Mobil yang belum terparkir secara benar dan rapi yang masih bergerak maju mundur. Zul pun membuka pintu dan berlari keluar mobil sambil main hujan-hujan yang tak kunjung redah malahan semakin lebat ke arah pantai, melihat tingka anaknya yang sulit dikontrol. Ibu Lia langsung mengejar Anaknya ke arah Pantai, sementara Pak Badaruddin memperbaiki parkiran mobilnya. Ibu Lia yang sudah kewalahan melihat tingka anaknya yang begitu nakal dan tak mau lagi mendengar arahan dari Ibunya sendiri, Sang Anak pun tetap berenang bebas di lautan berombak besar. Tiba saja Bu Lia berteriak histeris memanggil suamianya karena melihat anaknya tenggelam di lautan dan terbawa arus ombak yang makin lama makin meninggi. Mendengar teriakan dari istri tercinta, Pak Badaruddin pun langsung berlari menujuh ke arah istrinya dan menyaksikan Anaknya terbawa arus ombak yang semakin meninggi dan angin pun bertiup begitu kencang berdampingan derasnya hujan yang mengguyur kota Makassar hari ini. Tanpa sadar Pak Badaruddin langsung berenang ke pantai ke arah anaknya tanpa mempedulikan lagi tingginya ombak yang mengancam keselamatannya sendiri demi semata wayang yang tercinta, semantara Sang Istri minta bantuan warga setempat. Mendengar suara histeris dari Ibu Lia, seketika itu pula warga yang sempat mendengar teriakan minta tolong langsung berdatangan dan ada pula yang dengan lincanya mengendarai perahu nelayannya untuk menyelamatkan Zul dan Ayahnya yang sudah kelelahan berenang. Untungnya perahu nelayan cepat menghampiri dan keduanya pun diankat ke atas perahu dengan selamat meskipun Zul banyak menelan air laut. Kapal pun langsung bergegas menepi kedermaga. Akhirnya nyawa Zul dapat tertolong. Zul hampir saja meninggal akibat kenakalannya yang tak mau mendengar nasehat kedua orang tuanya dan orang tuanya pun terlalu mamanjakan Anaknya secara berlebihan tanpa berfikir dampak yang akan menimpa Anaknya sendiri. Yang dapat berakibat fatal, tapi untungnya nyawa Zul dapat tertolong.
Ke Esokan harinya Ibu Rojawati bersama suaminya Sumanto datang menjenguk Cucunya di Rumah Sakit Faisal, Ibu Rojawati adalah Ibu kandung Muliati (ibunya Zul) mertua Pak Badaruddin. Sesampainya di kamar tempat Zul dirawat, Ibu Rojawati langsung memarahi Anaknya Muliati karena kelalaiannya mengasuh Anaknya dan memanjakan Anaknya terlalu berlebihan. Mendengar congehan Ibunya Lia pun mencoba meredahkan Ibunya sendiri dan mempersilakan duduk sementara Bapaknya Sumanto duduk diam menetap wajah Cucunya yang pucat, merekapun duduk berdampingan di samping ranjang Zul, yang sedang tertidur. Bu Rojawati pun langsung memberikan nasehat kepada anaknya Lia(Ibunya Zul) istri tercinta Pak Badaruddin,”Memanjakan Anak itu jangan terlalu berlebihan dan tidak selamanya kita harus menuruti semua kehendak Sang Anak, kita melarang atau membiarkannya menangis bukan berarti kita tadak menyanyanginya, lebih baik membiarkannya menangis daripada membiarkan Dia melakukan hal yang membahayakan kesehatannya apalagi mengancam nyawanya sendiri apalagi Zul kan masih Anak-anak yang belum tau apa-apa” ujar Bu Rojawati untuk Anaknya Lia. Mendengar nasehat singkat dari Ibunya, Lia pun hanya bias terdiam dan merenungi apa yang telah menimpa Anak semata wayangnya. Sambil menangis, Lia berucap “ Saya yang salah Bu telah membiarkan Zul sendirian berenag di pantai dan memanjakannya secara berlebihan.” mendengar ucapan Anaknya, Bu Rojawati pun menjawap “ Sudahla,,,,, yang penting Zul kan tidak apa-apa. Butuh istirahat yang cukup saja Zul kan kembali seperti dulu lagi dan ingat jangan sampai kejadian ini terulang lagi”, dengan suara layu Lia pun menjawab “ Iya Bu.” Pak Badaruddin hanya biasa terdiam dan memendam tangisannya melihat Si buah hatinya yang paling dia cintai. Pak Badaruddin sangat terpukul dan merasa sangat bersalah atas kejadian ini karna beliau sadar jikala Anaknya terbaring lemah tak berdaya, tak banya hal yang dapat dia lakukan untuk Anaknya selain bersedih dan hanya bisa memandang wajah Si buah hati yang wajahnya terlihar pucat dan terkadang menangis akibat jarum impus yang tertancap di tangannya.
Beberapa hari kemudian akhirnya Zul kembali ceria lagi dan dapat bermain dengan penuh keceriaan bersama teman-teman sebayanya. Pak Badaruddin dan Bu Muliati pun akhirnay sadar sendiri dan belajar dari pengalaman yang perna menimpa keluarga mereka ternyata memanjakan Anak tak selamanya semua apa yang menjadi keinginan Anaknya bila itu membahayakan harus di penuhi meskinpun Sang Anak memberontak dan menangis karna bila di biarkan sejenak menangis dan di bujuk dengan penuh kesabaran dan kelembutan akan luluh sendiri karna Sang Anak juga bosan sendiri bila harus menangis terus. Menghalangi, melarang, dan memarahi anak juga salah satu bentuk rasa sayang karna demi kebaikan dan keselamatan Sang Anak juga. Si Anak sendiri pun akan sadar dan akan mendengar nasehat orang tuanya sendiri bila tanpa manjaan, tekanan, dan kebebasan secara berlebihan. Memarahi orang yang disayangi salah satu bentuk kasih sayang dan cinta.
Rahmat “Nicotine”
Makassar, 13 Januari 2011






0 komentar:
Posting Komentar